Oleh: Rohmatullah Adny Asymuni*

Pada bulan ini kita telah memasuki bulan Rabi'ul Awal, bulan kelahiran Rasulullah Saw pembawa risalah islamiyah. Abuya Sayyid Muhammad pernah berpidato yang isinya: Rasulullah Saw dilahirkan pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal. Bagi orang-orang Arab dahulu bulan ini tak istimewa, tidak dimuliakan, bukan bulan yang diwajibkan puasa di dalamnya, bukan bulan ibadah, bukan bulan haji, bukan bulan umrah. Kenapa Rasulullah Saw tidak dilahirkan pada hari bersejarah seperti di bulan Muharam (Asyura')— dalam catatan sejarah, bulan Asyura' adalah bulan Allah Swt menyelamatkan Nabi Musa n dan menenggelamkan Fir'aun. Nabi Saw juga tak dilahirkan pada bulan Arafah (bulan Haji) di mana Nabi Ibrahim n melakukan wukuf. Rasulullah Saw dilahirkan pada bulan Rabi'ul Awal yang, mulanya, dianggap tak penting.

Kenapa Rasulullah Saw dilahirkan di bulan Rabiul Awal? Allah Swt menghendaki keutamaan maupun kemulian Nabi Muhammad Saw bersifat mandiri (independen); tidak ada sangkut pautnya dengan seseorang. Seandainya Nabi Muhammad Saw dilahirkan pada bulan Asyura' atau Arafah, niscaya orang-orang mengira bahwa kemulian Nabi Muhammad Saw disebabkan bulan yang mulia.

Di bulan ini, kaum Muslimin di seluruh belahan dunia memperingati Maulid Nabi Saw yang akhir-akhir ini sebagian kelompok Islam melarangnya bahkan mengklaimnya sebagai amalan yang menyimpang dari Islam. Padahal banyak ulama yang memperbolehkan peringatan Maulid Nabi Saw dan menganggapnya bukan perbuatan bid'ah.

Dalil bolehnya Maulid yang paling jelas dan kuat adalah sebuah ayat Al-Qur'an;
قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا
“Katakanlah: “Dengan karunia Allah Swt dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira..” (QS. Yunus: 58)

Ibnu Abbas menafsikan karunia dengan ilmu, sementara rahmat Allah adalah Rasulullah g. Penafsiran ini dipertegas oleh ayat lain yang berbunyi:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya': 107)

Acara maulid hanya sebuah wadah yang memang masuk kategori bid'ah (baca: bid'ah hasanah). Pembaca harus fokus pada muatan acaranya, jangan covernya saja. Acara maulid biasanya berisi: 1-pembacaan sifat-sifat Nabi Saw baik secara fisik maupun akhlaqnya. 2-  membaca salawat secara bersama. 3- membaca syair-syair pujian terhadap Rasul Saw yang didasari rasa cinta dan pengagungan. 4- berdoa dan memohon maghfirah pada Allah c. 5- memberi makanan dan sedekah.

Bila isi maulid seperti yang disebutkan di atas, maka tidak ada alasan untuk memberinya label sebagai bid'ah sayyiah (bid'ah yang sesat). Kecuali bila acara tersebut memang diwarnai oleh kemungkaran dan perilaku maksiat, seperti minum minuman keras, percampuran antara pria dan wanita selain mahram dan sebagainya.
Alasan kelompok anti maulid, biasanya, berdalih acara perayaan maulid hanya pemborosan dan menyia-nyiakan harta.

Padahal setelah kita telisik di kutubus salaf tentang tabdzir (pemborosan) dijelaskan: menyalurkan harta pada sedekah dan berbagai jalur kebaikan, seperti pemberian makanan, pakaian, dan hadiah tidak termasuk mubadzir. Karena dalam hal ini ia bertujuan baik, yakni ingin memperoleh pahala dan bersenang-senang (lihat Hasyiah al-Jamal II/200). Oleh karenanya tidak heran jika para ulama berkata “Tiada berlebihan dalam kebaikan dan tiada kebaikan dalam berlebihan”

Pun demikian, dalam konsep cinta: sang pencinta sejati akan mengorbankan semua yang dia punya demi kekasihnya. Ummat Nabi Saw yang luruh dalam cinta dan tenggelam dalam kerinduan yang maha dahsyat pada Rasulnya, tak memperdulikan pengorbanan harta benda bahkan nyawa sekali pun demi kekasihnya (Nabi g). Bila demikian, masih berlakukah apa yang disebut 'boros'?!

*Alumni MMU 09 Tengginah dan PP. Sidogiri yang kini kuliah di STEI Tazkia Bogor jurusan Bisnis & Manajemen Islam

0 komentar:

Posting Komentar

 
Aswaja NU Center Pakong - Buletin Kiswah © 2015. Powered by Sumberpandan.com
Atas